Tradisi Ramadan
23 Agustus 2010
109 klik Beritahu Teman
Oleh Junaidi
SEBAGAI makhluk Tuhan yang kreatif kita mempunyai berbagai tradisi yang berkaitan erat dengan amalan yang diperintahkan Tuhan. Secara sunatullah kita memang diberikan potensi kreativitas untuk menghadapi berbagai kondisi alam dan masyarakat di sekitar kita agar kita dapat bertahan hidup dan beradaptasi dengan alam semesta. Potensi kreativitas pula yang membedakan antara manusia dengan makhluk lain. Potensi kreativitas ini menyebabkan manusia disebut dengan makhluk yang berbudaya.
Posisi manusia sebagai makhluk berbudaya memberikan implikasi terhadap amalan agama yang dianutnya. Ini menyebabkan amalan agama yang dilakukan sering diiringi pula oleh berbagai tradisi yang dilakukan secara turun temurun. Meskipun amalan agama bersumber dari wahyu yang terdapat dalam kitap suci dan tradisi bersumber dari kreativitas manusia, agama dan budaya selalu hidup berdampingan.
Agama tak bisa dilepaskan dari kebudayaan sebab manusia itu sendiri diciptakan Tuhan memiliki kebudayaan. Bahkan untuk memahami wahyu dari Tuhan, manusia memerlukan potensi budaya yang dimililikinya, yakni bahasa. Bukankah bahasa itu berada dalam ranah kebudayaan? Bahasa adalah salah satu aspek kebudayaan yang digunakan manusia untuk memahami dirinya, alam semesta, wahyu dan Tuhan. Eratnya hubungan agama dan kebudayaan dapat dilihat dari tradisi dalam Ramadan yang dilakukan masyarakat kita.
Tradisi bangsa kita mungkin berbeda dengan tradisi orang Islam di negara lain dalam amalan Ramadan. Beragam tradisi yang kita lakukan dalam Ramadan. Tradisi yang kita lakukan ada yang sesuai dengan spirit of Ramadan dan ada pula yang tidak sesuai dengan hakikat dari ibadah puasa. Tradisi yang sesuai dengan amalan Ramadan tentu saja perlu ditingkatkan sebab itu dapat mendukung keberhasilan kita dalam menjalankan ibadah puasa. Sebaliknya, tradisi yang tidak sesuai dengan semangat Ramadan harus dihentikan sebab tradisi itu justru akan merusak amalan ibadah puasa kita.
Berikut dijelaskan beberapa tradisi yang kita lakukan berkaitan dengan Ramadan. Pertama, ziarah ke keburan. Tradisi ini biasanya dilakukan beberapa hari sebelum Ramadan. Ziarah ini dilakukan ke kuburan orang tua, leluhur, kerabat, dan keluarga lainnya. Mengapa ziarah ini dilakukan sebelum Ramadan? Berbagai alasan. Kita ingin mengingat keluarga yang telah meninggal dunia sebab suasana Ramadan kadang-kadang terasa mengharukan bagi sebagian kita. Atau kita ingin mendoakan keluarga kita yang telah meninggal dunia agar pada Ramadan yang akan datang rohnya dapat lebih tenang dan mendapat pengampunan sebab kita percaya Ramadan merupakan bulan pengampunan. Atau mungkin saja kita datang ke kuburan untuk mengingat kematian agar kita lebih khusuk dan serius beramal pada Ramadan.
Kita sering mengalami kesulitan untuk menyatakan alasan kita berziarah ke keburan menjelang Ramadan sebab ia telah dianggap sebagai tradisi. Sulitnya lagi, tradisi sering dilakukan tidak dengan alasan logis tetapi lebih didasarksan pada kebiasan turun- temurun dari suatu generasi ke generasi lainnya. Apa pun alasannya, tradisi ziarah itu harus dimaknai sesuai dengan tuntunan agama.
Kedua, minta maaf dan selamat puasa. Menjelang Ramadan datang, kita sering mempunyai tradisi saling memaafkan baik yang dilakukan secara langsung dengan bersalaman atau menggunakan media telekomunikasi seperti telepon, SMS, e-mail, facebook, dan twitter. Penggunaan media tersebut dapat mendukung keinginan kita untuk bermaafan. Tradisi minta maaf ini merupakan bentuk kesadaran terhadap kesalahan yang pernah kita buat. Sehingga sebelum Ramadan hati kita diharapkan telah bersih untuk memasuki bulan suci Ramadan.
Dalam masyarakat Melayu, tradisi minta maaf itu tidak cukup dinyatakan secara langsung tetapi sering pula disampaikan dengan pantun. Suatu cara yang sangat elok dan sesuai dengan tradisi pantun yang melekat dalam masyarakat. Meskipun disampaikan dengan bahasa yang bersifat metaforik dengan berbagai perlambangan, intinya adalah mohon dimaafkan dan mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa.
Ketiga, penyucian diri. Tradisi ini biasanya dilakukan satu hari sebelum masuknya Ramadan dengan proses ritual mandi. Dalam masyarakat Melayu tradisi ini disebut dengan berbagai istilah, yakni balimau kasai, potang balimau, atau petang megang. Esensi dari ritual ini adalah penyucian diri untuk memasuki bulan suci Ramadan. Semangat yang terkandung dalam ritual ini sangat sesuai dengan semangat Ramadan. Tetapi, dalam implementasinya semangat penyucian itu mungkin saja mengalami distorsi oleh perbuatan orang-orang yang tidak memaknai tradisi ini secara benar.
Keempat, petasan, kembang api, dan lilin. Tradisi menghasilkan bunyi dengan petasan dan menghasilkan cahaya dengan kembang api dan lilin merupakan tradisi yang kurang elok dilaksanakan pada Ramadan. Dentuman bunyi petasan yang keras pasti menganggu kita. Bahkan ketika kita salat di masjid petasan pun meletus. Anehnya, mengapa tradisi ini dilakukan pada Ramadan? Tidak ada semangat Ramadan yang terkandung dalam tradisi petasan. Bahkan tradisi ini justru menganggu dan merusak amalan di bulan Ramadan sebab jelas tradisi ini berbahaya, membuang-buang uang, dan dapat menganggu ketenteraman ibadah.
Tradisi kembang api dan lilin sebenarnya juga kurang elok karena berbahaya dan cenderung tidak berguna. Salah satu kemungkinan alasan mengapa ada tradisi petasan, kembang api, dan lilin dalam Ramadan adalah simplifikasi makna kegembiraan dalam menyambut Ramadan. Orang beranggapan bahwa bunyi dentuman dan cahaya merupakan ekspresi kegembiraan terhadap Ramadan. Ekspresi kegembiraan seperti ini tentu saja benar-benar bertentangan dengan hakikat Ramadan. Jika demikian, akankah kita tetap mempertahankan tradisi ini? Bukankah tradisi ini merugikan kita?
Kelima, asmara subuh. Istilah ini muncul dari anak-anak muda yang memanfaatkan waktu setelah salat subuh untuk berjalan-jalan di tempat tertentu. Tradisi jalan pagi itu baik untuk kesehatan tetapi tradisi muda-mudi berjalan secara bersama-sama tidak baik dipandang mata. Bahkan tradisi ini cenderung merusak puasa sebab ada unsur etika pergaulan pria dan wanita yang dilanggar. Istilah asmara subuh pun berkonotasi negatif karena tidak sesuai dengan tuntunan. Tetapi mengapa tradisi ini bisa populer di kalangan kawula muda kita? Entahlah! Anak-anak kita cenderung membangun tradisi yang tidak baik pada bulan bulan baik. Para tokoh agama, guru, dan kita semua harus mencarikan solusi persoalan ini agar generasi muda kita dapat membangun peradaban dengan tradisi yang baik.
Keenam, belanja berlebihan. Seharusnya pada Ramadan kita dapat hidup lebih berhemat sebab dalam ibadah puasa terkandung nilai untuk menahan nafsu yang berlebihan. Kita dilatih untuk menahan diri dan mengendalikan hawa nafsu. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Justru pada Ramadan prilaku konsumtif kita semakin meningkat. Kita memang berpuasa pada siang hari tetapi setelah itu kita puaskan nafsu kita dengan berbagai macam makanan. Tradisi belanja berlebihan ini telah menjadi kebiasaan tidak baik yang kita lakukan pada Ramadan. Puncak dari prilaku konsumtif itu akan lebih terlihat pada saat penghujung Ramadan atau pada saat Hari Raya Idul Fitri.
Kita seperti orang yang sedang berpesta pora pada saat Idul Fitri. Kemenangan yang diperoleh setelah menjalankan puasa Ramadan dimaknai dengan prilaku konsumtif, baju baru, kue beraneka jenis dan minuman kaleng. Tradisi seperti ini tentu saja perlu kita renungkan agar kita tidak salah dalam memaknai hakikat dari puasa dan idul fitri. Tradisi yang kita lakukan pada Ramadan adalah bentuk kreativitas kita sebagai makhluk yang memiliki akal dan budi. Tradisi itu tidak abadi. Ia boleh diubah, disesuaikan dan bahkan ditinggalkan. Sehingga bila ada tradisi yang berkaitan dengan amalan agama tidak sesuai dengan hakikat dari amalan agama, maka tradisi itu harus secara perlahan-lahan ditinggalkan.
Tradisi dibangun agar manusia dapat hidup lebih baik dan sesuai dengan kehendak sang Pencipta. Jangan sampai tradisi bertentangan dengan ajaran Tuhan.***
Dr Junaidi, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unilak.
Kali ini saya coba menulis kan isi hati Saya tentang petasan, bukan tentang cara membuat petasan, tapi tentang bagai mana petasan atau mercon bila di gunakan sembarangan dan bukan pada moment yang tepat akan menjadi suatu hal yang sangat mengganggu dan berbahaya.
Lalu kenapa saya kaitkan dengan bulan Ramadhan?…
bulan Ramadhan adalah bulan suci Umat Islam, Selain Bulan Ibadah ada perilaku yang sangat berbeda di bandingkan bulan-bulan yang lain, yaitu marak nya petasan, entah sejak kapan tradisi ini di mulai, begitu tiba bulan Ramadhan maka secara otomatis akan kita temukan penjual petasan dimana mana, dan akan kita dengar suara petasan di berbagai penjuru.
Peredaran Petasan seringkali dilarang peredaran nya oleh pemerintah setempat tapi, entah kenapa peredaran nya tak pernah berkurang dan peminat nya pun hampir semua umur, walaupun tetap di dominasi oleh Anak-anak dan remaja.
Yang saya tekankan pada tulisan ini bukan petasan nya, tapi moment nya yang sering tidak mengindahkan ketenangan orang lain, tidak perduli bahwa bermain petasan dengan tidak melihat situasi akan dapat sangat membahayakan orang lain, termasuk si pengguna petasan itu sendiri.
Pernah seorang teman bercerita bahwa pernah jatuh dari sepeda motor nya karena kaget mendengar suara petasan yang tepat meledak di samping nya, dan banyak cerita-cerita lain tentang bahaya petasan.
Bulan Ramadhan adalah bulan yang di khusus kan Bagi umat Islam untuk menunaikan Ibadah Puasa dan Ibadah-ibadah lain nya untuk lebih di tingkatkan pada bulan Ramadhan.
Hubungan nya dengan petasan sudah jelas sangat mengganggu Orang yang sedang berpuasa .
Terhadap pengguna petasan itu sendiri kalau dia berpuasa bukan tidak mungkin Ibadah puasa nya akan rusak di karenakan banyak orang yang terganggu oleh perbuatan nya.
Contohnya, Saya sering kaget karena tiba-tiba ada petasan yang meledak tidak jauh dari posisi Saya,
Tak sengaja Saya mengucapkan sumpah serapah walau pun hanya dalam hati, Rusakkah Puasa Saya karena mengucapkan sumpah serapah, seandai nya bisa membuat puasa Saya rusak, mungkin lebih lagi yang diterima oleh sang penyebab, yaitu yang main petasan. Sungguh di sayangkan bila puasa Anda berkurang pahalanya hanya sebab petasan, dan bagi para Orang tua yang membiarkan anak-anak mereka sembarangan bermain petasan tampa mengenal waktu, selain bahaya untuk anak-anak kalau ada Dosanya mungkin untuk tabungan untuk Orang tua mereka.
Bukan Saya tidak suka petasan, tapi yang Saya tekan kan disini adalah situasi nya yang harus di perhatikan agar tidak terlalu mengganggu Orang lain, agar tidak ada lagi sumpah serapah untuk anda, yang bisa saja membuat anda tertimpa kesialan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar